Harus saya akui bahwa sebagai film yang berdasarkan kisah nyata, film tentang raja inggris yaitu King George VI ini cukup spektakuler. Walaupun saya kurang sepaham apabila film ini harus dianugrahi banyak penghargaan. Karena di satu sisi saya melihat film ini sebagai lelucon, dan bahkan mungkin sedikit penghinaan terhadap Adolf Hitler. Di mana pada masa peran dunia kedua, ternyata disaat Jerman begitu berapi-api untuk berperang yang dipimpin oleh Adolf Hitler, ternyata sang Raja Inggris sedang sibuk belajar bagaimana berpidato dan berbicara dengan baik dan benar. Film ini mencoba menyajikan sisi lain yang mungkin tidak pernah kita ketahui atau lihat. Film ini juga mencoba mengajari kita arti persahabatan tanpa memandang kasta, yang diperlihatkan pada persahabatan King George VI dengan Lionel, yang banyak membantu King George VI belajar menghadapi rasa takutnya pada pidato.
London Boulevard adalah film inggris yang dibuat berdasarkan novel karya Ken Bruen dan disutradarai oleh William Monahan. Turut didukung oleh bintang yang cukup ternama seperti Keira Knightley yang sempat bermain di Pirates of Carribean. Dan juga Collin Farrel yang bermain di The Way Back dan The Imaginarium of Doctor Parnassus. Meskipun didukung oleh beberapa artis ternama, saya harus bilang bahwa film ini gatot, alias gagal total. Film ini seakan hendak mempermainkan kita sebagai penonton. Dari penceritaannya sendiri, gaya sutradara William Monahan kurang lebih sebelas dua belas dengan Quentin Tarantino, benar-benar banyak menampilkan adegan yang abstrak. Secara pribadi saya tidak mereferensikan film ini, poster menipu, dan tidak sesuai harapan. Yah mengingatkan saya pada film The American nya George Clooney.
Have you ever watch Castaway? But i think that movie is way better than this, at least you can see a beatiful island there. But in this movie? Get ready to shocked away, because this movie almost starred only by one man, Ryan Reynolds, who played as Paul Conroy, a truck driver that is working at Iraq, and get ambushed and then being buried. The good thing from this movie is, you can witness your self, that a good movie doesn't have many beautiful settings, and many actor or actress. This "Buried" only have one setting, that is in a coffin, yes an ugly and dark coffin. But i must admit that this movie is worth to watch. But if you're wishing for a happy ending from this movie, wipe it away. But you can just go to the theatre and see how Ryan Reynolds make us worried in about 94 minutes, in an dark coffin. I think this movie should have a trophy from Guiness World Record.
Kadang justru film yang tidak kita duga bagus ternyata jauh lebih baik daripada film yang sedang diputar pada pekan yang sama. Bright Star merupakan puisi karya John Keats, seorang penyair yang justru kurang terkenal semasa hidupnya. Film ini menceritakan bagaimana kisah cinta 3 tahun yang dijalani oleh Keats dengan Fanny Brawne. Film ini sungguh sangat penuh dengan drama, romantisme, dan emosional yang begitu kuat. Sangat mengena untuk tontonan seorang melankolis. Bright Star merupakan film yang diadaptasi dari kisah nyata, yang tentunya akan bisa memberikan kita banyak inspirasi baru setelah menyaksikan film ini. Saya sangat merekomendasikan film ini sebagai sebuah film drama yang romantis. Sayangnya film ini telat rilis di sini, film ini rilis sebetulnya pada tahun 2009. By the way saya suka melihat Abbie Cornish dengan rambut hitamnya.
Akhirnya, dan lagi-lagi, sebuah film yang dirilis pada Juni 2009, sebuah film thriller asal Prancis, lagi-lagi telat masuk ditayangkan di sini maksud saya. Di luar sudah menjadi film dvd rental, di sini baru masuk bioskop. Tapi terlepas dari itu saya harus bilang bahwa film agak berbeda dengan kebanyakan thriller lainnya. High Lane menceritakan tentang sebuah tim pendaki yang nekad menerobos jalur yang telah dilarang untuk dimasuki. Alhasil mereka malah harus mengalami kejadian-kejadian yang mengerikan. Perbuatan nekad mereka tidak hanya dibayar dengan rasa takut, namun juga nyawa. Di satu sisi saya merasa film ini akan menurunkan minat para pecinta alam untuk melakukan kegiatan pendakian di masa depan, karena film ini cukup memvisualisasikan betapa mengerikannya kegiatan pendakian. Salah satu tokoh utama yang botak agak menyerupai Van Diesel, namun sayang sekali tidak segagah si Triple X. Film berdurasi 90 menit ini memang menyajikan suasana mencekam, namun sayangnya hanya dongkol saja yang ditimbulkan di hampir sepanjang film ini.
Diangkat dari kisah nyata Lise Villameur pada masa Perang Dunia II. Apabila anda berharap akan mendapatkan hiburan dengan menonton film ini, maka bunuhlah harapan anda tersebut. Jangan juga tertipu oleh judulnya "Female Agents" seolah anda akan melihat aksi seperti Tom Cruise di Mission Impossible ataupun The A-Team. Karena saya sendiri berkali-kali kecewa dan gigit jari dengan betapa seringnya kesalahan fatal dilakukan para tokoh utama, sehingga mengakibatkan kegagalan misi yang akhirnya memakan korban. Namun mungkin memang seperti inilah sebuah potret nyata salah satu kejadian penting dimasa Perang Dunia II terutama di Prancis. Mungkin saya kurang baik mengikuti awal ceritanya, sehingga tidak mengerti atas dasar apa mereka harus mati-matian berkorban banyak hanya demi membunuh salah satu pucuk pimpinan NAZI di Prancis. Mungkin memang pada masa itu, tidak banyak pilihan yang mereka miliki. Menukar banyak nyawa demi satu nyawa. Film ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus film di Prancis, namun banyak para veteran perlawanan pada masa dulu yang memprotes karena lewat film ini ditunjukkan bahwa para wanita itu terlihat terpaksa dan dipaksa untuk bergabung dengan perlawanan, dan bukan bergabung karena rasa patriot. Meskipun pada akhirnya pengorbanan mereka semua mendapatkan hasil. Sekali lagi saya ingatkan, apabila anda hendak menonton film ini, maka bayangkanlah sebuah film dokumenter sejarah. Karena apabila anda membayangkan sebuah film seru bak Charlie Angels, hahaha.... Anda salah alamat. Dan sayangnya ternyata ini adalah film lama yang telah rilis pada tahun 2008 silam. Judul aslinya adalah Les Femmes de l'ombre, yang apabila diterjemahkan artinya adalah "wanita Bayangan". Female Agents? Well guys, you good at selling things.
Ya inilah telur-telur hasil dari Britain's Got Talent. Menarik melihat sebuah film dengan tema street dance. Ini bukan film yang kategori seru, tapi cukup menghibur. Tidak hanya melihat aksi dari street dance, namun juga mengamati fashion style para street dancers, terutama di daerah Britain (Inggris). Kedua grup dancers yang beraksi di film ini yaitu The Surge di perankan oleh grup dancer Flawless, Salah satu finalis di musim ketiga (2009) Britain's Got Talent. Mereka juga masuk sebagai finalis bersama dengan grup dancer Diversity yang tampil sebagai pemenang. Mungkin banyak yang tertarik melihat penampilan Carly di film ini. Apabila melihat trailer-trailer sebelum dirilisnya film ini, dan juga poster, kita bisa sedikitnya melihat sosok Madonna disitu, yah kurang lebih. Dan di film ini memang aksi Nichola Burley tergolong baik, apalagi kebetulan dengan background-nya yang pernah belajar juga di Walton School of Theatre Dance. Namun karena tuntutan peran, sekitar 6 minggu Nichola Burley harus belajar dan mendalami Street Dance. Saya tidak tahu seperti apa versi 3D dari film ini. Namun melihat hasil edit dari film yang versi biasanya, saya bisa mengatakan bahwa hasil editingnya memang tidak sehebat film-film teluran Hollywood, tapi melihat kegigihan Carly memimpin tim nya dari bawah sampai ke atas bisa menjadi menarik untuk kita sebagai penonton. Remember, this is a fun movie, so have fun!
Chistine mengetahui bahwa dirinya akan berada di kursi roda seumur hidupnya. Untuk menghindari rasa keterasingan, ia melakukan perjalanan ke Loudres, sebuah kota ziarah kecil di pegunungan Pyrenees. Suatu pagi ia terbangun dan suatu keajaiban terjadi. Pimpinan kelompok ziarah tersebut, seorang sukarelawan tampan berusia 40 tahunan yang berasal dari Malta, mulai tertarik padanya. Christine mencoba menahan hasrat kebahagiaan yang mulai menghampirinya, disaat kesembuhan menimbulkan kecemburuan dan kekaguman.
Mungkin sedang musim menodai kerja keras James Bond si agen rahasia, dengan mencelupkan aroma komedi yang kuat pada setiap film yang mengandung agen rahasia. Tom Hardy punya karakter kuat sebagai…
Seperti biasa, film dari Warner Bros selalu menghibur, dan kembali dibintangi oleh The Rock, dan Vanessa Hudgens. Apabila memperhatikan film nya, terlihat Dwayne menunjuk ke pulau sekitar Sulawesi, namun ternyata…
Film ini mengingatkan saya pada film Shutter Island, sebuah film yang mempermainkan pikiran anda. Seolah anda diajak untuk memahami orang gila. Awalnya anda mungkin akan melihat film ini sebagai sebuah…
Berawal dari kecintaan terhadap karakter fiksi seorang detektif berjambul bernama Tintin, seorang animator muda asal Indonesia bernama Rini Sugianto sukses menembus kancah perfilman Hollywood. Rini yang saat ini bekerja sebagai animator di perusahaan WETA digital di Selandia Baru, baru-baru ini ikut menggarap film "The Adventures of Tintin."
Yofie Setiawan
May Meitriyana
Shinta Setiawan
Monika Marcia
.
Ghost Rider adalah antihero berdasarkan komik dari Marvel Comics. Ini adalah sekuel dari film sebelumnya yang dirilis pada tahun 2007, yang masih dibintangi oleh Nicolas Cage yang sedang turun daun. Dan sedihnya sekali lagi Nicolas Cage harus kecewa karena film ini ternyata banyak dinilai buruk. Saya sendiri entah mengapa serasa…
Mungkin sedang musim menodai kerja keras James Bond si agen rahasia, dengan mencelupkan aroma komedi yang kuat pada setiap film yang mengandung agen rahasia. Tom Hardy punya karakter kuat sebagai cowo macho, sementara Chris Pine sebagai cowo tampan rupawan. Dan si target adalah Reese Witherspoon yang berperan sebagai Lauren Scott.…
Seperti biasa, film dari Warner Bros selalu menghibur, dan kembali dibintangi oleh The Rock, dan Vanessa Hudgens. Apabila memperhatikan film nya, terlihat Dwayne menunjuk ke pulau sekitar Sulawesi, namun ternyata shooting dilaksanakan di Oahu, Hawaii. Film ini memang terasa tidak serius, dan membuat terasa kurang cocok untuk orang dewasa, namun…
Film ini mengingatkan saya pada film Shutter Island, sebuah film yang mempermainkan pikiran anda. Seolah anda diajak untuk memahami orang gila. Awalnya anda mungkin akan melihat film ini sebagai sebuah film horror tentang setan yang mengerikan, namun ternyata bukan. Film ini lebih tentang monster kecil yang berdiam di rumah anda,…
Film bertemakan science fiction ini mencoba dibawakan dengan gaya seperti film Paranormal Activity, yaitu menggunakan kamera amatir. Namun demikian beberapa bagian masih tidak konsisten. Namun demikian film ini mendapatkan banyak respon positif, karena mencoba membawakan cerita sejenis seperti mutant x-men dengan gaya yang berbeda, membuat film ini serasa nyata terjadi.…
Underworld Awakening merupakan franchise ke 4 dari film Underworld. Kali ini disuguhkan dengan 3D, dan masih dibintangi oleh Kate Beckinsale sebagai Selene. Dari plot ceritanya mungkin memang terasa biasa-biasa saja, namun untuk anda yang sudah bosan dengan kisah vampir romantis, anda bisa puas menyaksikan sepak terjang Selene di sini sebagai…
Konsep ceritanya seputar serangan alien, konsep yang sedang ramai belakangan ini ya. Sayangnya alien di film ini tidak terlihat sama sekali. Dan kemampuan alien tersebut cukup mengerikan dan bisa terbilang untuk sebuah film sci-fi thriller, agak terasa datar dan kurang imajinasi. Filmnya juga terasa terlalu cepat, cuma 89 menit.
Nama Adam Sandler, Al Pacino, dan Katie Holmes tidak sanggup menolong betapa buruknya film yang seharusnya adalah drama komedi ini. Mary Pols dari Time Magazine menganugrahi film ini sebagai film terburuk nomor 1 di tahun 2011. Adam Sandler yang berperan juga sebagai Jill benar-benar terlihat tolol dan menyebalkan. Film ini…
A Game of Shadows kembali di sutradarai oleh Guy Ritchie, dan didukung oleh peran Robert Downey, Jr dan Jude Law. Musuh mereka kali ini adalah Professor Moriarty, yang tidak kalah cerdas dengan Sherlock Holmes. Naskah film ini diinspirasi dari novel Conan Doyle berjudul, The Final Problem. Seperti film sebelumnya, banyak…
If I could give Gary Marshall (the director) and Katherine Fugate (The writer) a message, it would be: It failed me just as failed as Valentine’s Day. The intertwined stories of special moments started when “Love Actually” amazed us with their magical Christmas Stories. Hollywood tried to copy it with…